Habis pulang kantor, jalan deh ke Point Square, lagi pengen nge-mall bentar ah. Niatnya sich belanja di Giant, waktu mau pulang koq ya hujan deras bonus angin kencang. Baca berita di detik, ternyata jakarta diterjang angin kencang disertai hujan malam ini pukul 20.15 WB. Kekuatan angin yang mencapai 15 knot (menurut BMG) mampu membuat pohon-pohon besar mulai bergoyang. Siapa yang tidak takut dengan goyangan pohon-pohon ini? Sekali tumbang bisa membuat kerusakan di sekitarnya. Dan kemungkinan besar kejadian ini akan terjadi lagi 2-3 hari ke depan. Ya sudah, tahun baru di Jakarta aja deh, males kemana-mana jadinya.
Hari sebelumnya kita dikagetkan dengan kejadian longsor di Tawangmangu, KarangAnyar, Jawa Tengah. Liputan 6 bahkan melaporkan jika korban longsor sudah mencapai 61 orang. Yang lebih mengherankan, Bengawan Solo yang selama ini diam tiba-tiba ikut mengamuk. Muntahan airnya membuat Madiun dan Bojonegoo kebanjiran, sungguh sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi. Kasihan bocah jika harus kebanjiran waktu berangkat sekolah. Sabar ya…
Selama ini kita terlalu ribut membahas berkurangnya hutan lindung di Kalimantan, sampai-sampai kita melupakan tanah Jawa yang kita huni ini. Betapa bodohnya kita yang membenarkan pembangunan rumah dimana-mana tanpa memperhatikan kaidah lingkungan yang ada. Orang ramai-ramai membangun vila di Puncak tanpa memperhatikan efek jangka panjangnya. Yang lebih lucu lagi, sebuah contoh kecil, sebagian daerah Mampang (Jakarta) yang merupakan daerah resapan air malah dibangun menjadi daerah pemukiman padat. Kalau sudah banjir datang, baru deh semua teriak-teriak menyalahkan pemerintah. Seorang teman berujar, koq ya kita masih lebih bodoh ya dari Belanda! Jaman dulu penataan kota yang dilakukan Belanda sudah relatif baik. Tau ah, gelap…
Yang harus kita sadari, semua ini terjadi ketika kita sedang merayakan ultah 3 tahun tsunami aceh 2004, sebuah fenomena alam yang membuat kita kehilangan begitu banyak saudara dan materi. Hingga kini pemulihan kondisi Aceh pasca tsunami pun belum tuntas-tuntas juga. Marilah berpikir sejenak, apa yang harus kita perbuat ke depan. Jika kita tidak bisa menyayangi bumi ini, akankah bumi ini menyayangi kita?
Berikut sedikit kutipan berita di detik.
Bencana Alam 2007, 20 Ribu Orang Tewas, Kerugian US$ 75 M
Pratiwi Ester Novita Manik - detikcomJakarta - Tahun 2007 diwarnai oleh bencana yang datang beruntun di seluruh dunia. Kerugian akibat bencana ini sungguh tidak sedikit, angkanya mencapai US$ 75 miliar. Sementara di negara berkembang bencana alam tahun ini telah mengakibatkan 20 ribu orang tewas.Munich Re, perusahaan re-asuransi terbesar kedua di dunia, seperti dilansir AFP, Jumat (28/12/2007), mencatat, selama 2007 ada 950 bencana alam. Padahal tahun sebelumnya ‘hanya’ 850. Angka ini menjadi rekor baru sejak tahun 1974.
Menurut Munich, bencana sepanjang tahun 2007 mengakibatkan kerugian sebesar 75 milyar dollar AS. Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang ‘cuma’ sebesar 50 milyar dollar AS. Namun kerugian akibat badai Katrina dan gempa di Pakistan tahun 2005 belum tertandingi. Kerugian bencana pada 2005 ini mencapai 220 milyar dollar AS.
Tahun 2007 rekor kerugian terbesar disandang gempa di Jepang yaitu senilai 12,5 milyar dollar AS. Sementara untuk nilai ganti rugi terbesar dicatat oleh badai Kyrill di Eropa bulan Januari lalu, sebesar 5,8 milyar dollar AS. Posisi kedua ditempati Inggris, akibat banjir yang melanda Januari lalu.
Korban jiwa akibat bencana alam tahun 2007 di negara-negara berkembang tercatat sebanyak 20.000, 3.300 korban jatuh di Cyclone Sidr, Bangladesh bulan November lalu.
Banjir dan badai yang terus terjadi mengindikasikan efek pemanasan yang makin jelas terlihat. Munich Re, perusahaan re-asuransi terbesar kedua di dunia, mengemukakan kondisi ini diprediksi akan memburuk terkait dengan adanya pemanasan global.
“Meski pemanasan global bukan penyebab tunggal, tapi bisa diprediksikan besar peranannya atas bencana-bencana lebih besar di masa depan. Intensitas badai akan lebih dashyat, hujan akan lebih lebat dan banjir akan lebih sering terjadi,” ujar Peter Hoeppe, kepala Geo Risks Research Department Munich Re seperti dikutip AFP. (twi/iy)













