temanku, dimas, menulis seperti ini di email. menarik juga…
Mungkin beberapa dari kita,terutama yg pernah ikut organisasi atau pelatihan SDM, sudah pernah membaca atau mendengar kalimat (yg maksudnya) motivasi berikut ini :
“Janganlah jadi seperti lilin,dia menyinari sekitarnya tapi dia sendiri hancur meleleh…”
Saya kurang setuju dengan kalimat diatas karena beberapa alasan :
- kalau tidak menyinari sekitarnya,trus lilin mau mengerjakan apa?
- adakah satu hal di dunia yang tidak akan habis dipakai,meski kita berusaha sekuat mungkin untuk menghematnya(termasuk jasmani kita)?Oke awalnya memang terkesan konyol mempermasalahkan kalimat tersebut,tapi menurut saya it leads us to a wrong wisdom, ia menuntun kita ke hikmah yang salah.
Mempermasalahkan lilin yang meleleh setelah ia bersinar sama saja mempermasalahkan mereka yang kehabisan tenaga karena aktif dalam operasi kemanusaiaan di daerah bencana,atau mempermasalahkan seorang guru yang mendedikasikan nyaris seluruh waktunya untuk mendidik murid2nya, mempermasalahkan lilin yg meleleh setelah bersinar sama juga kita
mempermasalahkan seorang petugas pemadam kebakaran yang terluka saat mati2an berusaha menyelamatkan seorang anak yg
terjebak dalam gedung yang terbakar,juga mempermasalahkan seorang ibu yang mengorbankan nyawanya sendiri demi hidup anaknya.Justru lilin telah memberikan teladan pada kita tentang dedikasi dan kesetiaan terhadap jati diri apapun hasil dari kesetiaan tersebut.Ia paham saat lampu, lentera, obor telah padam maka ialah harapan satu-satunya untuk sebuah pencerahan,meski karena itu ia mesti meleleh dan pelan-pelan pudar,ia paham bahwa alasan dia diciptakan adalah untuk menerangi.
Kalau bukan karena adanya “lilin-lilin” (para guru,ibu-bapak,pemungut sampah dll) yang hidup dan mengabdikan dirinya di sekitar kita, mungkin kita tidak akan pernah tahu apa arti kasih sayang,tidak pernah ada masyarakat yang utuh.
Justru bagi saya lilin adalah perwujudan (embodiment) dari cinta dalam bentuknya yang paling mulia, refleksi paling cerah dari cinta Alloh SWT pada hamba2nya.
Seperti kisah tiga sahabat Rasul yang terluka parah hingga ajal tinggal selangkah dalam satu peperangan, ketiga sahabat tersebut akhirnya syahid setelah tetap saling mendahulukan saat akan diberi minum, adakah kita akan menyebut mereka sebagai “lilin yang meleleh setelah bersinar”?? atau justru “lilin-lilin” mereka yang sinarnya terus benderang ribuan tahun sesudah tubuh mereka memudar dari dunia??
tergantung gimana kita melihatnya sich… kalau Dimas liat guru dll sebagai “lilin”, aq melihat mereka seperti matahari. kenapa? karena lilin hanya memberi manfaat sesaat, sementara apa yang dilakukan guru dkk itu mampu menyinari orang di sekitarnya dan manfaatnya yang terasa dalam waktu yang lama. jadi, mereka lebih layak dipandang sebagai matahari dibandingkan sebuah lilin.
ya memang, sebuah ungkapan bisa berarti banyak hal, tergantung bagaimana kita menyikapinya. saya lebih suka menggunakan ungkapan, “lebih pilih mana, menjadi sebuah lilin yang sebentar saja akan redup atau menjadi sebuah matahari yang menyinari dunia”. keduanya sama2 memberi motivasi kepada kita untuk berkontribusi. tetapi motivasi menjadi matahari akan membuat energi kita seakan2 takkan pernah habis, terus, terus, dan terus berkontribusi. dan alhamdulillah ada manfaatnya pada diri saya sendiri. Bagaimana dengan kalian? lebih pilih mana?






Hidup itu memang penuh dengan pilihan.
Tinggal kita mau pilih yang mana.
Yang pasti hidup hanya sekali, untuk itu jangan sampai kita menyia-nyia kan nya.
Kita harus bisa menjadi orang yang bermanfaat.
Salam kenal ustadz agus